Senin, 28 Januari 2013

Perjalanan Kehidupan- dengan Sentilan (Part 1)


Sentilan pertama, saya manggut-manggut mengerti.
Sentilan kedua, (lagi) saya manggut-menggut mengerti sembari menghembuskan nafas yang mulai terasa berat.
Sentilan ketiga, saya (masih) manggut-manggut memahami esensi dari semua ini, menempatkan lapang dada dan “kelegowoan” menjadi urutan pertama dan terdepan dalam menata hati, pikiran serta emosi. Helaan nafas masih terasa berat, namun kini terasa pekat, rasanya, nyesek banget!!!

Entah untuk yang kesekian, “garis kuning” baru dimulai:

Saya tahu, bahkan dari awal ketika menyadari saya ada disini, mindset saya yang salah sudah mengarah kesana, bahwa saya tak seperti harapan mereka, bahwa saya, tak ingin menjadi seperti apa yang mereka inginkan, karena saya tak menjamin, bahwa saya mampu melewati semuanya tetapi (kelak) justru meninggalkan kecewa bagi mereka yang menaruh harapan, karena saya tahu, kemampuan ini tak seberapa. Mindset yang dari awal sudah salah,, ditambah dengan keadaan yang (bagi saya) tak mendukung untuk mengibarkan bendera “fighting” (penonton yang hanya berperan sebagai supporter karena yang merasakan adalah pemain lapangan yang sebenarnya), jadi sebetulnya pemeran utama adalah yang memiliki kekuatan penuh untuk tekad dengan super power menuju titik tolak perubahan tanpa mengesampingkan esensi pendukung lainnya. Wah kalau pemeran utama lebih dari satu, tentu akan menjadi kekuatan mega power untuk kebaikan dalam peradaban.

Tangis ini saya kira akan bermuara pada awal mengenali dunia perkuliahan semata, substansi diri sebagai seorang muslim, kemudian eksistensi sebagai insan yang terlahir Islam, berharap dapat saya tularkan bagi mereka yang berada disekitar kita. Kepemahaman saya memang tak seberapa, apabila diukur, mungkin hanya sampai permukaan dasar semata, betapa sedikit dan lemahnya kemampuan saya. saya bukan orang baik, hanya berusaha untuk menjadi dan melakukan yang terbaik, dengan pegangan yang saya yakini. saya tak pernah merasa ingin berada dipuncak, saya tak begitu suka orang berkata apa tentang saya, seringkali saya tak pedulikan walaupun terkadang sebetulnya mendapat rating cukup tinggi dalam pikiran saya (saya anggap ini sebagai evaluasi diri, muhasabah diri), bagi saya, cukup Allah yang menilai segala gerak gerik dan tingkah perilaku saya. Tak usahlah mereka tahu betapa seringkalinya saya “terbangun dan tertatih” dalam periode terlahir sebagai mahasiswa dengan “mereka” yang menjadi orang disekililing kita (tak perlu “koar-koar” rasa nano-nano yang saya punya jika ternyata hanya menjadi batu sandungan bagi saya dan mereka yang disekitar kita), cukuplah bagi saya persimpangan dari akhir segala rasa hanya Allah semata.

Manusia, ya, kacamata manusia. Sebaik apapun perjuangan yang telah kita rasa ini adalah yang terbaik, terkadang itu adalah bukan kata “terbaik” yang seharusnya, yang hanya dapat didefinisikan oleh segolongan orang tertentu, individu setiap manusia, dan pribadi, seringkali berbeda. Tetapi perlu diingat, bahwa kata “terbaik” yang Allah miliki adalah kata terbaik yang sebenarnya. Allah berfirman:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-baqarah (2) : 216).

Kemamapuan yang saya miliki tidak seberapa, dan tidak ada apa-apanya. Yang saya pahami, bahwa Allah telah memberikan akal pikiran yang sehat kepada makhluknya (manusia) untuk mencari kebenaran dengan akal sehat yang dimiliki, dengan berfikir untuk mereka yang diberikan kemampuan berfikir lebih dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Saya juga tidak keberatan ketika mereka mengatakan betapa bodohnya saya sehingga terlihat betapa seringnya kesalahan yang saya perbuat (bagi mereka) dan seolah tak ada perihal sekecil apapun kebenaran yang saya lakukan (untuk konteks yang saat ini saya alami), karena bagi saya, Maha benar hanya milik Allah semata, tak ada yang lain, manusia adalah tempat kesalahan (tetapi bukan berarti tidak berusaha untuk memperbaiki kesalahan dan mencari kebenaran yang hakiki), tempat segala pengetahuan dan kebenaran, hanya Allah.

Ketika dianggap sebagai seorang yang pembangkang yang hidup semaunya dan susah diatur oleh kalangan mereka, saya juga tidak keberatan, toh memang iya (terimakasih buat mereka yang sudah sabar meladeni tingkah saya). Ketika “stempel” itu terletak pada saya, monggo, pasang stempel sebanyak mungkin, karena bagi saya, hanya Allah yang berhak memiliki cap label paling halal untuk memberikan stempel kepada manusia.

Sedangkal apapun pemikiran dan kemampuan saya miliki, terkadang ada sisi “protes” (terhadap konteks tertentu), menyebabkan hati, pikiran dan emosi terusik.  Katanya, jika terluka sudah pasti ada obatnya, bahkan sampai ada obat penghilang bekas luka, tetapi yang namanya hati kalau sudah terluka, susah cari obatnya dan lama sembuhnya.
Katanya loh yaaaa.. Tapi kalau boleh saya bilang jujur, memang iya..

Singkat cerita, saya terlahir sebagai manusia biasa, tempat segala salah dan khilaf, dengan segala kerendahan hati yang saya miliki, mohon dimaafkan dan diikhlaskan..
           
 *) Sekaran, 12/9/2012, 8:32 am.

Sejatinya, hidup adalah untuk terus belajar, belajar utuk tidak mengatakan bahwa "saya sudah belajar", lalu merasa diri pintar dan mulai merendahkan yang lain. Ingatlah, manusia dan keilmuan sejatinya milik Tuhan, Rabb semesta alam. Belajarlah untuk tidak menjustice sesorang seperti apa, belajarlah untuk tidak selalu bergumam dan bereaksi ketika mereka berbicara tentang diri kita seperti apa (mau baik atau buruk, yeah, walaupun memang tak dapat dipungkiri, risih memang), percayalah, label Allah tidak pernah salah. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar bersabar kala yang di impikan tak jua tiba, belajar berbagi walau yang kita miliki sedikit nan tak seberapa, belajar berbaik sangka kepada Allah dan sesama, belajar untuk lebih bersyukur agar hidup ringan dan penuh berkah. Mari belajar bersama.Allah tidak akan memberikan skenario ecek-ecek, tentu sesuai kapasitas kita. Allah tidak akan memerikan ujian yang sama, sebelum kita dinyatakan Lulus oleh-Nya.Allah tidak pernah salah memberikan peran, tinggal bagaiamana kita bermain peran, secara optimal kah atau hanya sebatas melewatinya sejenak lalu tak peduli dan ngeloyor pergi gitu aja. Semua sudah pada porsinya, ingin menghabiskan segala ikhtiar secara optimal sampai porsi tersebut habis dan merasakan hasil dari sebuah proses, atau menikamati proses dan tak peduli akan hasil (karena proses adalah pembelajaran yang hanya akan didapat oleh mereka yang mau dan menyukai proses), atau menjadi bagian dari yang tak menyukai proses dan mementingkan hasil, atau bahkan menjadi bagian yang tak peduli dengan proses dan tak mementingkan akan hasil. Semua adalah pilihan.
Hidup adalah pilihan, dan bahagia adalah pilihan atas kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

"Kacamata Berwarna" Asuransi Syariah

Lembaga asuransi bukan merupakan sesuatu hal yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia masa kini . Perekonomian syariah berkembang...