Sentilan pertama, saya manggut-manggut
mengerti.
Sentilan kedua, (lagi) saya manggut-menggut
mengerti sembari menghembuskan nafas yang mulai terasa berat.
Sentilan ketiga, saya (masih) manggut-manggut
memahami esensi dari semua ini, menempatkan lapang dada dan “kelegowoan”
menjadi urutan pertama dan terdepan dalam menata hati, pikiran serta emosi.
Helaan nafas masih terasa berat, namun kini terasa pekat, rasanya, nyesek
banget!!!
Entah untuk yang kesekian, “garis kuning” baru dimulai:
Saya tahu, bahkan dari awal ketika menyadari
saya ada disini, mindset saya yang salah sudah mengarah kesana, bahwa saya tak
seperti harapan mereka, bahwa saya, tak ingin menjadi seperti apa yang mereka
inginkan, karena saya tak menjamin, bahwa saya mampu melewati semuanya tetapi
(kelak) justru meninggalkan kecewa bagi mereka yang menaruh harapan, karena
saya tahu, kemampuan ini tak seberapa. Mindset yang dari awal sudah salah,,
ditambah dengan keadaan yang (bagi saya) tak mendukung untuk mengibarkan
bendera “fighting” (penonton yang
hanya berperan sebagai supporter
karena yang merasakan adalah pemain lapangan yang sebenarnya), jadi sebetulnya
pemeran utama adalah yang memiliki kekuatan penuh untuk tekad dengan super power menuju titik tolak perubahan
tanpa mengesampingkan esensi pendukung lainnya. Wah kalau pemeran utama lebih
dari satu, tentu akan menjadi kekuatan mega
power untuk kebaikan dalam peradaban.
Tangis ini saya kira akan bermuara pada awal
mengenali dunia perkuliahan semata, substansi diri sebagai seorang muslim,
kemudian eksistensi sebagai insan yang terlahir Islam, berharap dapat saya
tularkan bagi mereka yang berada disekitar kita. Kepemahaman saya memang tak
seberapa, apabila diukur, mungkin hanya sampai permukaan dasar semata, betapa
sedikit dan lemahnya kemampuan saya. saya
bukan orang baik, hanya berusaha untuk menjadi dan melakukan yang terbaik,
dengan pegangan yang saya yakini. saya tak pernah merasa ingin berada dipuncak,
saya tak begitu suka orang berkata apa tentang saya, seringkali saya tak
pedulikan walaupun terkadang sebetulnya mendapat rating cukup tinggi dalam pikiran saya (saya anggap ini sebagai
evaluasi diri, muhasabah diri), bagi saya, cukup Allah yang menilai segala
gerak gerik dan tingkah perilaku saya. Tak usahlah mereka tahu betapa seringkalinya
saya “terbangun dan tertatih” dalam periode terlahir sebagai mahasiswa dengan
“mereka” yang menjadi orang disekililing kita (tak perlu “koar-koar” rasa
nano-nano yang saya punya jika ternyata hanya menjadi batu sandungan bagi saya
dan mereka yang disekitar kita), cukuplah bagi saya persimpangan dari akhir segala rasa hanya Allah semata.
Manusia, ya, kacamata manusia. Sebaik apapun
perjuangan yang telah kita rasa ini adalah yang terbaik, terkadang itu adalah
bukan kata “terbaik” yang seharusnya, yang hanya dapat didefinisikan oleh
segolongan orang tertentu, individu setiap manusia, dan pribadi, seringkali
berbeda. Tetapi perlu diingat, bahwa kata “terbaik” yang Allah miliki adalah
kata terbaik yang sebenarnya. Allah berfirman:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu.
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan
boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-baqarah (2) : 216).
Kemamapuan yang saya miliki tidak seberapa, dan
tidak ada apa-apanya. Yang saya pahami, bahwa Allah telah memberikan akal pikiran
yang sehat kepada makhluknya (manusia) untuk mencari kebenaran dengan akal
sehat yang dimiliki, dengan berfikir untuk mereka yang diberikan kemampuan
berfikir lebih dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Saya juga tidak
keberatan ketika mereka mengatakan betapa bodohnya saya sehingga terlihat
betapa seringnya kesalahan yang saya perbuat (bagi mereka) dan seolah tak ada
perihal sekecil apapun kebenaran yang saya lakukan (untuk konteks yang saat ini
saya alami), karena bagi saya, Maha benar hanya milik Allah semata, tak ada
yang lain, manusia adalah tempat kesalahan (tetapi bukan berarti tidak berusaha
untuk memperbaiki kesalahan dan mencari kebenaran yang hakiki), tempat segala
pengetahuan dan kebenaran, hanya Allah.
Ketika dianggap sebagai seorang yang
pembangkang yang hidup semaunya dan susah diatur oleh kalangan mereka, saya
juga tidak keberatan, toh memang iya (terimakasih buat mereka yang sudah sabar
meladeni tingkah saya). Ketika “stempel” itu terletak pada saya, monggo, pasang
stempel sebanyak mungkin, karena bagi saya, hanya Allah yang berhak
memiliki cap label paling halal untuk memberikan stempel kepada manusia.
Sedangkal apapun pemikiran dan kemampuan saya
miliki, terkadang ada sisi “protes” (terhadap konteks tertentu), menyebabkan
hati, pikiran dan emosi terusik. Katanya,
jika terluka sudah pasti ada obatnya,
bahkan sampai ada obat penghilang bekas luka, tetapi yang namanya hati kalau
sudah terluka, susah cari obatnya dan lama sembuhnya.
Katanya loh yaaaa.. Tapi kalau boleh saya
bilang jujur, memang iya..
Singkat cerita, saya terlahir sebagai manusia
biasa, tempat segala salah dan khilaf, dengan segala kerendahan hati yang saya
miliki, mohon dimaafkan dan diikhlaskan..
*)
Sekaran, 12/9/2012, 8:32 am.
Sejatinya, hidup adalah untuk terus belajar, belajar utuk tidak mengatakan bahwa "saya sudah belajar", lalu merasa diri pintar dan mulai merendahkan yang lain. Ingatlah, manusia dan keilmuan sejatinya milik Tuhan, Rabb semesta alam. Belajarlah untuk tidak menjustice sesorang seperti apa, belajarlah untuk tidak selalu bergumam dan bereaksi ketika mereka berbicara tentang diri kita seperti apa (mau baik atau buruk, yeah, walaupun memang tak dapat dipungkiri, risih memang), percayalah, label Allah tidak pernah salah. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar bersabar kala yang di impikan tak jua tiba, belajar berbagi walau yang kita miliki sedikit nan tak seberapa, belajar berbaik sangka kepada Allah dan sesama, belajar untuk lebih bersyukur agar hidup ringan dan penuh berkah. Mari belajar bersama.Allah tidak akan memberikan skenario ecek-ecek, tentu sesuai kapasitas kita. Allah tidak akan memerikan ujian yang sama, sebelum kita dinyatakan Lulus oleh-Nya.Allah tidak pernah salah memberikan peran, tinggal bagaiamana kita bermain peran, secara optimal kah atau hanya sebatas melewatinya sejenak lalu tak peduli dan ngeloyor pergi gitu aja. Semua sudah pada porsinya, ingin menghabiskan segala ikhtiar secara optimal sampai porsi tersebut habis dan merasakan hasil dari sebuah proses, atau menikamati proses dan tak peduli akan hasil (karena proses adalah pembelajaran yang hanya akan didapat oleh mereka yang mau dan menyukai proses), atau menjadi bagian dari yang tak menyukai proses dan mementingkan hasil, atau bahkan menjadi bagian yang tak peduli dengan proses dan tak mementingkan akan hasil. Semua adalah pilihan.
Sejatinya, hidup adalah untuk terus belajar, belajar utuk tidak mengatakan bahwa "saya sudah belajar", lalu merasa diri pintar dan mulai merendahkan yang lain. Ingatlah, manusia dan keilmuan sejatinya milik Tuhan, Rabb semesta alam. Belajarlah untuk tidak menjustice sesorang seperti apa, belajarlah untuk tidak selalu bergumam dan bereaksi ketika mereka berbicara tentang diri kita seperti apa (mau baik atau buruk, yeah, walaupun memang tak dapat dipungkiri, risih memang), percayalah, label Allah tidak pernah salah. Belajar untuk tidak mengeluh, belajar bersabar kala yang di impikan tak jua tiba, belajar berbagi walau yang kita miliki sedikit nan tak seberapa, belajar berbaik sangka kepada Allah dan sesama, belajar untuk lebih bersyukur agar hidup ringan dan penuh berkah. Mari belajar bersama.Allah tidak akan memberikan skenario ecek-ecek, tentu sesuai kapasitas kita. Allah tidak akan memerikan ujian yang sama, sebelum kita dinyatakan Lulus oleh-Nya.Allah tidak pernah salah memberikan peran, tinggal bagaiamana kita bermain peran, secara optimal kah atau hanya sebatas melewatinya sejenak lalu tak peduli dan ngeloyor pergi gitu aja. Semua sudah pada porsinya, ingin menghabiskan segala ikhtiar secara optimal sampai porsi tersebut habis dan merasakan hasil dari sebuah proses, atau menikamati proses dan tak peduli akan hasil (karena proses adalah pembelajaran yang hanya akan didapat oleh mereka yang mau dan menyukai proses), atau menjadi bagian dari yang tak menyukai proses dan mementingkan hasil, atau bahkan menjadi bagian yang tak peduli dengan proses dan tak mementingkan akan hasil. Semua adalah pilihan.
Hidup adalah pilihan, dan bahagia adalah pilihan atas kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.