Sunyi sepi, sesekali sayup-sayup angin menghampiri merdu, menyapa indera pendengaranku dengan lembut. Seolah sayup angin itu berkata “tetaplah berjuang untuk menyempurnakan kata”. Kembali sesekali terngiang slide film masa depan yang aku buat sendiri, sebagai pemeran utama, penulis skenario sekaligus produser hebat. Ya, aku yang membuatnya sendiri, tentang kisahku esok dan mimpiku. Lalu bagaimana denganmu sahabat??
Malam ini, tak ada hujan angin seperti malam-malam sebelumnya. Seolah langit bergembira dapat memberikan senyuman indahnya dalam kesempatan selingan awan hitam pekat yang seringkali menaungi beberapa hari belakangan ini. Tak ada rintikan hujan yang menemani malamku, hening. Yang ada hanya kegaduhan kecilku, sepi, dan mereka sibuk dalam dunianya masing-masing. Segelas kopi hitam pekat sudah ku teguk sebelum gelap menyeluruh menerpa pemukiman, berniat menyelesaikan sesuatu yang sudah seharusnya terselesaikan beberapa minggu yang lalu. Namun apalah daya, ini itu seringkali dijadikan kambing hitam untuk menutupi deadline yang aku buat sendiri, deadline yang hanya berhak atas diriku sendiri, jatuh tempo yang tak lagi cukup buatku. Dan kini aku berlari menuju aktivitas lain, menunggu terangnya temaram malam untuk menemani sampai dimana aku dapat bertahan dengan jemari, mimpi dan imajinasi. Besar harapan untuk dapat memadukannya menjadi sebuah sinergitas yang mampu menopang afirmasi serta menyeretnya menjadi sebuah bentuk aplikasi berbagi.
Masa depan, begitu takut untuk menatapnya sehingga begitu berani melawannya. Semakin berani dan semakin kuat gelora untuk menembus batas potensi. Tak usahlah mereka tahu, karena ini rahasia seorang hamba dengan Tuhannya. Begitu ciutnya aku bertekuk lutut dengan mimpi yang seolah tak sanggup sampai menjumpainya, entah satu tahun lima tahun atau bahkan tahun-tahun mendatang hingga tak ada lagi usia yang Allah berikan. Kepercayaan ku kepada Tuhan-ku, Rabb semesta alam, menawarkan obat dari segala ketidakoptimisan, memberikan solusi terbaik yang terkadang sulit kutemukan, kerapuhan yang seolah tak sanggup melawan betapa kuatnya kekokohan atas keyakinan seorang hamba terhadap Tuhan-nya.
“Kejutan indah dari Allah, tak tergantikan.” Seberapapun kuat dengan obsesimu sahabat? Mimpimu? Atau mungkin renstra hidupmu. Seseorang yang baru ku kenal, dengan gaya ku yang sok akrab, ia pernah berkata padaku: “semua renstra hidupmu dapat berubah kapan saja, maumu ingin mengikuti arus kehidupan ataukah mugkin tetap akan bersikukuh dengan kehidupan yang harus dan inginmu adalah mengikuti obsesi dan mimpi yang sudah melayang dalam jiwa??”
Mendengarnya sejenak aku terdiam seolah berfikir, walaupun cepat merasuk dalam otak kepala agaknya saat itu aku cukup tercenung lama, dan ini baru berfikir sungguhan.
Ini untukmu, untukku dan untuk mereka semua:
“Serahkan dan kembalikan hanya kepada Sang Pemilik jiwa, Sang Creator kehidupan. Harapan yang tetap bersandar padaNya, maka tak akan ada kekecewaan didalamnya. Karena Allah tak akan mengecewakan hamba-Nya, dengan skenario-Nya yang begitu indah.”
Semakin pekat malam. Masih tetap memainkan jemari, bermain dengan alfabets yang begitu lincah menari untuk menjadi satuan kata yang bersimpul menjadi kalimat demi kalimat beruntun. Kulirik jam disudut sana, menunjukan waktu yang baru saja menginjak pagi, tetapi tak jua mampu membujuk indera penglihatanku untuk terpejam, dan alam fikiranku masih saja tetap meminta bercengkrama dalam sunyi.
Kisah yang tak dapat kulirik, kau tahu?
Mengajarkanku untuk tetap berkisah
Kepadamu, kepadanya dan kepada seisi dunia
Tentangmu, tentangku, tentangnya, dan tentang mereka
Bercerita tentang kerasnya kehidupan dan kegigihan
Berbicara tentang perjuangan dan pengorbanan
Berkisah tentang kepercayaan dan keteguhan
Semua yang tetap berjalan dengan sendirinya
Namun terdapat simpul yang tak terpisahkan
Keyakinan terhadap dien, dalam satu pelukan, yaitu Islam.
Terang lampu malam kembali bersinar, mecoba beranjak dan beralih pada pekerjaan semula. Membaca sebuah tulisan asing, ilmu yang belum pernah tersentuh dengan seutuhnya. Menuliskannya dalam sebuah kertas putih, berusaha berfikir untuk merangkainya menjadi sebuah karya yang patut disyukuri. Ini barulah awal dari sebuah pendahuluan untuk menjadi karya yang patut diuji keabsahannya di depan para penguji. Dan suatu saat, aku yang akan duduk dalam posisi “itu” menguji adik-adik dalam bangku pendidikan. Ya suatu saat nanti, tentunya atas izin Allah.
Perjuangan begitu indah sahabat, kegigihan begitu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Semua butuh pengorbanan. Karena hasil adalah bagian terkecil dari proses yang sangat indah untuk dinikmati. Menikmati kehidupan dengan pundak yang kita punya. Pundak yang kau, aku dan mereka punya tidaklah akan melebihi kapasitas pundak masing-masing. Semua sudah pada porsinya, tidak usah khwatir dan takut untuk menghadapinya. Allah tidak pernah salah dalam memberikan beban di setiap pundak hambaNya.
Bismillah ^^;